Tugas Reguler C Angkatan 7

Image

Kualitas Air Air Minum

Air memegang peranan penting bagi kehidupan manusia, hewan, tumbuhan dan jasad-jasad lain. Air yang kita perlukan adalah air yang harus memenuhi persyaratan kesehatan baik persyaratan fisik, kimia, bakteriologis dan radioaktif. Air yang tidak tercemar, didefinisikan sebagai air yang tidak terkandung bahan-bahan asing tertentu dalam jumlah melebihi batas yang ditetapkan sehingga air tersebut dapat dipergunakan secara normal. Air yang memenuhi syarat, diharapkan dampak negatif penularan penyakit melalui air bisa diturunkan dimana Air merupakan kebuuhan pokok bagi manusia dengan segala macam kegiatannya,antara lain dipergunakan untuk :

1.Keperluan rumah tangga,misalnya untuk minum,memasak

2.Keperluan Umum,misalnya untuk kebersihan jalan dan pasar

3.Keperluan Industri,misalnya untuk PLTA

4.Keperluan Peranian Read more ›

Ditulis dalam Tugas Praktikum Kimia Amami

Bahan Tambahan Pangan

BAHAN TAMBAHAN MAKANAN ( BTM )

Bahan Tambahan Makanan (BTM) atau yang sering disebut Bahan Tambahan Pangan ( BTP ) Merupakan  bahan atau campuran bahan yang secara alami bukan  merupakan bagian dari bahan baku pangan, tetapi ditambahkan kedalam pangan  untuk  mempengaruhi  sifat  atau  bentuk  pangan,  antara  lain  bahan  pewarna, pengawet, penyedap rasa,  anti gumpal, pemucat dan pengental.
Bahan Tambahan Pangan atau aditif makanan juga diartikan sebagai bahan yang ditambahkan dan dicampurkan sewaktu pengolahan makanan untuk meningkatkan mutu. Pada umumnya bahan  tambahan pangan dapat dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu aditif sengaja dan aditif tidak sengaja. Aditif sengaja adalah aditif yang diberikan dengan sengaja dengan maksud dan tujuan tertentu, misalnya  untuk meningkatkan konsistensi, nilai gizi, cita rasa, mengendalikan keasaman atau kebasaan,  memantapkan bentuk dan rupa, dan lainnya. Sedangkan aditif yang tidak sengaja adalah aditif yang terdapat dalam makanan dalam jumlah sangat kecil sebagai akibat dari proses pengolahan. Bila dilihat dari asalnya, aditif dapat berasal dari sumber alamiah (misalnya lesitin); dan dapat juga disintesis dari  bahan kimia yang mempunyai sifat serupa benar dengan bahan alamiah yang  sejenis,  baik  dari  susunan  kimia  maupun  sifat  metabolismenya  (misal  asam askorbat).
Dalam  Peraturan  Menteri  Kesehatan  RI Melalui Permenkes No.722/Menkes/Per/IX/88 dan  No.  033 Tahun 2012  dijelaskan bahwa BTM  adalah bahan yang biasanya tidak digunakan sebagai pangan dan biasanya bukan merupakan ingredien  khas pangan, mempunyai atau tidak mempunyai nilai gizi, yang  dengan  sengaja  ditambahkan  kedalam   pangan  untuk  maksud  teknologi  pada pembuatan,  pengolahan,  pengepakan,  pengemasan,  penyimpanan  atau  pengangkutan pangan  untuk  menghasilkan  suatu  komponen  atau  mempengaruhi  sifat  khas  pangan tersebut.
Dalam kehidupan sehari-hari BTM sudah digunakan secara umum oleh masyarakat, termasuk  dalam  pembuatan  pangan  jajanan.  Masih  banyak  produsen  pangan  yang menggunakan  bahan   tambahan  yang  beracun  atau  berbahaya  bagi  kesehatan  yang sebenarnya tidak boleh digunakan dalam pangan.
Penyimpanan atau pelanggaran mengenai penggunaan BTM yang sering dilakukan oleh produsen pangan yaitu :
1.    Menggunakan bahan tambahan yang dilarang penggunaannya  untuk pangan.
2.    Menggunakan BTM melebihi dosis yang diizinkan.

Penggunaan bahan tambahan yang beracum atau BTM yang melebihi batas akan membahayakan kesehatan masyarakat dan berbahaya bagi pertumbuhan generasi yang akan datang. Oleh karena itu produsen pangan perlu mengetahui sifat-sifat dan keamanan penggunaan  BTM  serta  mengetahui  peraturan-peraturan  yang  telah  dikeluarkan  oleh pemerintah mengenai penggunaan BTM.
Secara khusus penggunaan BTM di dalam pangan adalah untuk :

1.    Mengawetkan pangan dengan mencegah pertumbuhan mikroba perusak pangan atau mencegah terjadinya reaksi kimia yang dapat menurunkan mutu pangan.
2.    Membentuk pangan menjadi lebih baik, renyah dan lebih enak dimulut.

3.    Memberikan warna dan aroma yang lebih menarik sehingga menambah selera.

4.    Meningkatkankualitas pangan.

5.    Menghemat biaya.

PENGGOLONGAN BTM

Penggolongan BTM yang diizinkan digunakan pada    pangan menurut Peraturan

Menteri Kesehatan RI No. 033 Tahun 2012 adalah sebagai berikut :

1    Pewarna, yaitu BTM yang dapat memperbaiki atau memberi warna pada pangan.

2    Pemanis buatan, yaitu BTM yang dapat menyebabkan rasa manis pada pangan, yang tidak atau hampir tidak mempunyai nilai gizi.
3    Pengawet,yaitu    BTM    yang    dapat    mencegah    atau    menghambat fermentasi, pengasaman  atau  peruaian  lain  pada  pangan  yang  disebabkan  oleh  pertumbuhan mikroba.
4    Atioksida, yaitu BTM yang dapat mencegah atau menghambat proses oksidasi lemak sehingga mencegah terjadinya ketengikan.
5    Antikempal,  yaitu  BTM  yang  dapat  mencegah  mengempalnya  (menggumpalnya) pangan yang berupa serbuk seperti tepung atau bubuk.

6    Penyedapa rasa dan aroma, menguatkan rasa, yaitu BTM yang dapat memberikan, menambah atau mempertegas rasa aroma.
7    Pengatur  keasaman  (pengasam,  penetral  dan  pendapar)  yaitu  BTM  yang  dapat mengasamkan, menetralkan dan mempertahankan derajat keasaman pangan.
8    Pemutih dan pematang tepung, yaitu BTM yang dapat mempercepat proses pemutihan dan atau pematang tepung sehingga dapat memperbaiki mutu pemanggangan.
9    Pengemulsi, pemantap dan pengental yaitu BTM yang dapat membantu terbentuknya dan memantapkan sistem dipersi yang homogen pada pangan.
10    Pengeras, yaitu BTM yang dapat memperkeras atau mencegah melunaknya pangan.

11    Sekuestran,  yaitu  BTM  yang  dapat  mengikat  ion  logam yang  ada  dalam pangan, sehingga memantapkan warna, aroma dan tekstrur.

Selain BTM yang tercantum dalam Peratuan Mentri tersebut, masih ada beberapa BTM

lainnya yang biasa digunakan dalam pangan, misalnya:

1    Enzim,  yaitu  BTM  yang  berasal  dari  hewan,  tanaman  atau  mikroba,  yang  dapat menguraikan secara enzimatis, misalnya membuat pangan menjadi lebih empuk, lebih larut danlain-lain.
2    Penambah gizi, yaitu bahan tambahan berupa asam amino, mineral atau vitamin, baik tunggal maupun campuran, yang dapat meningkatkan nilai gizi pangan.
3    Humektan,    yaitu    BTM    yang    dapat    menyerap    lembab    (uap    air)    sehingga mempertahankan kadar air pangan.

Tugas 1 Praktikum Kimia Amami

1    Berapakah batasan penambahan Bahn Tambahan Pangan menurut FDA ( Food and Drug Administration ) dan   Harap dilampirkan FDA  untuk :
a)    Pewarna
b)    Pemanis
c)    Pengawet
d)    Antioksidan
e)    Pengatur Keasaman
f)    Penyedap rasa
2    Bagaimanakah analisis Pewarna pada makanan menurut prosedur SNI ( Harap dilampirkan dokumen SNI ) !
3    Bagaimanakah analisis Pengawet pada makanan menurut prosedur SNI ( Harap dilampirkan dokumen SNI ) !
4    Apakah kelebihan dan kekurangan dalam analisis pewarna metode kromatografi kertas ?
5    Apakah kelebihan dan kekurangan dalam analisis pengawet metode kromatografi lapis tipis ?

Tugas dikirim ke alamat email : bernadusirawan@gmail.com paling lambat 07 Desember 2013

Ditulis dalam Tugas Praktikum Kimia Amami

Mikroskop

Komponen Mikroskop

Komponen Mikroskop

a.Kaki
Kaki berfungsi menopang dan memperkokoh kedudukan mikroskop. Pada kaki melekat lengan dengan semacam engsel, pada mikroskop sederhana (model student).

b.Lengan
Dengan adanya engsel antara kaki dan lengan, maka lengan dapat ditegakkan atau direbahkan.   Lengan  dipergunakan  juga  untuk  memegang  mikroskop  pada  saat memindah mikroskop.

c.Cermin.
Cermin mempunyai dua sisi, sisi cermin datar dan sisi cermin cekung, berfungsi untuk  memantulkan sinar dan sumber sinar. Cermin datar digunakan bila sumber sinar cukup terang, dan cermin cekung digunakan bila sumber sinar kurang. Cermin dapat lepas dan diganti dengan sumber sinar dari lampu. Pada mikroskop model baru, sudah tidak lagi dipasang cermin, karena sudah ada  sumber cahaya yang terpasang pada bagian bawah (kaki).

d.Kondensor
Kondensor tersusun dari lensa gabungan yang berfungsi mengumpulkan sinar kemudian meneruskan  berkas cahaya focus umum objek yang diamati.Dimana kondensor ini terletak diantara cermin mikroskop / sumber cahaya dengan meja objek.

e.Diafragma
Diafragma berfungsi mengatur banyaknya sinar yang masuk dengan mengatur bukaan  iris.   Letak  diafragma  melekat  pada  diafragma  di  bagian  bawah.  Pada mikroskop sederhana hanya ada diafragma tanpa kondensor. Kondensor ini digunakan untuk memperkecil dan memperbesar sudut bukaan cahaya dan karena itu, juga mengatur banyaknya cahaya yang masuk melalui kondensor. Makin lebar diafragma, makin besar aperture numeris dan semakin kecil bayangan objek yang terlihat. Namun, kontras bayangan objek benjadi berkurang.

f.Meja preparat
Meja preparat merupakan tempat meletakkan objek (preparat) yang akan dilihat. Objek diletakkan di meja dengan dijepit dengan oleh penjepit. Dibagian tengah meja terdapat lengan untuk  dilewat sinar. Pada jenis mikroskop tertentu,kedudukan meja tidak  dapat  dinaik  atau  diturunkan.  Pada  beberapa  mikroskop,  terutama  model terbaru, meja preparat dapat dinaik-turunkan.

g.Tabung.
Di bagian atas tabung melekat lensa okuler, dengan perbesaran tertentu (15X,10X, dan 15 X). Dibagian bawah tabung terdapat alat yang disebut revolver. Pada revolver tersebut terdapat lensa objektif.

h.Lensa obyektif
Lensa  objektif  bekerja  dalam  pembentukan  bayangan  pertama.  Lensa  ini menentukan struktur dan bagian renik yang akan terlihat pada bayangan akhir. Ciri penting  lensa  obyektif  adalah  memperbesar  bayangan  obyek  dengan  perbesaran beraneka macam sesuai dengan model dan pabrik pembuatnya, misalnya 10X, 40X, dan 100X dan mempunyai nilai apertura (NA). Nilai apertura adalah ukuran daya pisah suatu  lensa  obyektif yang akan menentukan daya pisah spesimen, sehingga mampu  menunjukkan   struktur  renik  yang  berdekatan  sebagai  dua  benda  yang terpisah.

i.Lensa Okuler
Lensa mikroskop yang terdapat di bagian ujung atas tabung, berdekatan dengan mata  pengamat.  Lensa ini berfungsi untuk memperbesar bayangan yang dihasilkan oleh lensa obyektif. Perbesaran bayangan yang terbentuk berkisar antara 4 – 25 kali.

j.Pengatur Kasar dan Halus
Komponen  ini  letaknya  pada  bagian  lengan  dan  berfungsi  untuk  mengatur kedudukan lensa objektif terhadap objek yang akan dilihat. Pada mikroskop dengan tabung lurus/tegak, pengatur kasar dan halus untuk menaikturunkan tabung sekaligus lensa onbjektif. Pada mikroskop dengan  tabung miring, pengatur kasar dan halus untuk menaikturunkan meja preparat.

2.Macam-Macam Mikroskop
Ada  dua  jenis  mikroskop  berdasarkan  pada  kenampakan  obyek  yang  diamati,  yaitu mikroskop dua  dimensi (mikroskop cahaya) dan cmikroskop tiga dimensi (mikroskop stereo). Sedangkan berdasarkan sumber cahayanya, mikroskop dibedakan menjadi mikroskop cahaya dan mikroskop elektron.
a.Mikroskop Cahaya
Mikroskop cahaya mempunyai perbesaran maksimum 1000 kali. Mikroskop mempunyai kaki yang berat  dan kokoh dengan tujuan agar dapat berdiri dengan stabil. Mikroskop cahaya memiliki tiga sistem lensa, yaitu lensa obyektif, lensa okuler, dan kondensor. Lensa obyektif dan lensa okuler terletak pada kedua ujung tabung  mikroskop. Lensa okuler pada mikroskop bisa berbentuk lensa  tunggal  (monokuler)  atau  ganda (binokuler).  Pada ujung bawah mikroskop terdapat tempat dudukan lensa obyektif yang bisa dipasangi tiga lensa atau  lebih. Di bawah tabung mikroskop terdapat meja mikroskop yang merupakan tempat preparat. Sistem lensa yang ketiga adalah kondensor. Kondensor berperan untuk menerangi obyek dan lensa-lensa mikroskop yang lain.
Pada mikroskop konvensional, sumber cahaya masih berasal dari sinar matahari yang dipantulkan  dengan  suatu  cermin  datar  ataupun  cekung  yang  terdapat  dibawah  kondensor. Cermin ini akan mengarahkan  cahaya dari luar kedalam kondensor. Pada mikroskop modern sudah dilengkapi lampu sebagai pengganti sumber cahaya matahari.

b.Mikroskop Stereo
Mikroskop stereo merupakan jenis mikroskop yang hanya bisa digunakan untuk benda yang berukuran relatif besar. Mikroskop stereo mempunyai perbesaran 7 hingga 30 kali. Benda yang  diamati  dengan  mikroskop  ini  dapat  terlihat  secara  tiga  dimensi.  Komponen  utama mikroskop stereo hampir sama dengan mikroskop  cahaya. Lensa terdiri atas lensa okuler dan lensa obyektif. Beberapa perbedaan dengan mikroskop cahaya adalah:
1)Ruang ketajaman lensa mikroskop stereo jauh lebih tinggi dibandingkan dengan mikroskop cahaya sehingga kita dapat melihat bentuk tiga dimensi benda yang diamati.
2)Sumber cahaya berasal dari atas sehingga obyek  yang tebal dapat diamati. Perbesaran lensa okuler biasanya 10 kali, sedangkan lensa obyektif  menggunakan  sistem  zoom  dengan  perbesaran  antara  0,7  hingga  3  kali,  sehingga perbesaran total obyek maksimal 30 kali. Pada bagian bawah mikroskop terdapat meja preparat. Pada  daerah  dekat  lensa  obyektif  terdapat  lampu  yang  dihubungkan  dengan  transformator. Pengatur fokus obyek terletak disamping tangkai mikroskop, sedangkan  pengatur perbesaran terletak diatas pengatur fokus.
c.Mikroskop Elektron
Sebagai gambaran mengenai mikroskop elektron kita uraikan sedikit dalam buku ini. Mikroskop  elektron mempunyai perbesaran sampai 100 ribu kali, elektron digunakan sebagai pengganti cahaya. Mikroskop elektron mempunyai dua tipe, yaitu mikroskop elektron scanning (SEM) dan mikroskop elektron transmisi  (TEM).  SEM digunakan untuk studi detil arsitektur permukaan sel (atau struktur renik lainnya), dan obyek diamati secara tiga dimensi. Sedangkan TEM digunakan untuk mengamati struktur detil internal sel. .

3.Penggunaan Mikroskop

Hal-hal yang perlu diperhatikan bila menggunakan mikroskop
a.Selalu membawa mikroskop dengan dua tangan.
b.Bila menggunakan preparat basah, tabung mikroskop selalu dalam keadaan tegak, berarti meja dalam  keadaan datar. Ini berlaku bagi mikroskop dengan tabung tegak, tidak berlaku untuk mikroskop dengan tabung miring.
c.Preparat basah harus selalu ditutup dengan gelas penutup saat dilihat di bawah mikroskop.
d.Selalu menjaga kebersihan lensa-lensa mikroskop termasuk cermin.
e.Bila ada bagian mikroskop yang bekerja kurang baik / hilang segera dilaporkan kepada laboran.
f.Tidak dibenarkan melepas lensa-lensa mikroskop dari tempatnya.
g.Setelah selesai menggunakan mikroskop, pasang lensa objektif degan perbesaran paling rendah pada kedudukan lurus ke bawah.

Bagaimana kita dapat mengamati suatu objek atau preparat dengan mikroskop?
Langkah  yang  dilakukan  agar  kita  dapat  mengamati  suatu  objek  atau  preparat  dengan menggunakan mikroskop.

a)Pastikan  meja  preparat  dalam  keadaan  datar    dan  lensa  objektif  perbesaran  rendah, dipasang pada kedudukan segaris sumbu dengan lensa okuler.
b)Melihat melalui okuler dengan satu mata (untuk mikroskop monokuler) dan dua mata (untuk mikroskop binokuler). Sesuaikan cermin agar sinar cukup tersedia atau nyalakan lampu  serta  sesuaikan  jumlah   sinar  yang  diperlukan.  Sesuaikan  lubang  diafragma sehingga sinar yang diterima mata optimal (tidak terlalu terang atau redup).
c)Jauhkan lensa objektif dari meja preparat dengan memutar pengatur kasar searah jarum jam. Letakkan preparat di bawah objektif. Dengan melihat dari samping, sesuaikan lensa objektif perbesaran rendah pada  jarak kira-kira 1 cm dari preparat. Lihat lagi melalui okuler, dan naikkan meja preparat dengan  pemutar  kasar kemudian gunakan pengatur halus sampai preparat jelas terlihat.
d)Lihat kembali dari samping, dengan hati-hati putar objektif degan perbesaran yg lebih tinggi (misalnya 45x)  pada kedudukannya. Perhatikan agar lensa tidak menyingung preparat, kemudian lihat kembali melalui okuler  dan  fokuskan preparat dengan memutar pemutar halus secara perlahan ke arah berlawanan jarum jam. Sesuaikan pencahayaan.
e)Amati preparat, apabila perlu digambar.
f)Bila pengamatan telah selesai putar revolver objektif ke perbesaran rendah, naikkan tabung atau turunkan meja, setelah itu ambil preparat dari meja preparat.

4.  Pemeliharaan Mikroskop

a.Mikroskop harus disimpan ditempat sejuk, kering, bebas debu, bebas dari uap asam-basa.
b.Tempat penyimpanan yang sesuai adalah kotak mikroskop yang dilengkapi silica gel, yang bersifat higroskopis sehingga lingkungan mikroskop tidak  lembab. Selain itu dapat pula dalam almari yang diberi lampu
b.Bagian mikroskop non-optik dapat dibersihkan dengan kain flanel. Untuk membersihkan debu yang  terselip  dapat dengan kuas kecil atau kuas lensa kamera, serta alat semprot atau kuas lembut.
c.Bersihkan  kotoran, berkas jari, minyak dan lain-lain  pada lensa dengan menggunakan kain lensa, tissu  atau kain lembut yang dibasahi sedikit alkohol -ether atau isopropil alkohol. Jangan sekali-kali membersihkan lensa dengan saputangan atau kain
d.Bersihkan badan mikroskop dan lengan dengan kain lembut dengan sedikit deterjen.

e.Sisa minyak imersi pada lensa objektif dapat dibersihkan dengan xilol (xylene). Hati-hati xilol dapat merusak bahan plastik.
DAFTAR PUSTAKA
Agung Mahode,Albertus. 2011. Pedoman Teknik Dasar Untuk Laboratorium Kesehatan.Jakarta:EGC
Olympus, 2003. Maintenance Manual for maintenance engineer.Tokyo: Olympus optical
Rogers,Kirsten. 2010. Panduan Lengkap Mikroskop.Jakarta:Erlangga

Ditulis dalam Instrumentasi

Iodometri

IODOMETRI

 

Iodometri merupakan  analisa titrimetrik secara tidak langsung untuk zat yang bersifat oksidator seperti besi III / Fe(III), tembaga II / Cu (II). Titrasi  iodometri  dapat  digunakan  untukmenetapkan  senyawa-senyawa  yang  mempunyai  potensial  oksidasi  yang  lebihbesar  daripada  sistem  iodium-iodida  atau  senyawa-senyawa  yang  bersifat oksidator seperti CuSO4.%H2O.

Pada metode iodometri ini,sampel yang bersifat Oksidator akan direduksi oleh KI (kalium iodida)secara berlebih dan akan menghasilkan I2 (Iodium) yang selanjutnya akan di ttrasi oleh Na2S2O3 ( natrium thiosulfat).Banyakknya volume Na2S2O3 ( natrium thiosulfat) yang digunakan sebagai titran itu setara dengan I2 (iodium) yang dihasilkan dan setara dengan kadar sampel.

Larutan standard yang digunakan dalam metode iodometri adalah Na2S2O3( natrium thiosulfat). Garam ini biasanya berbentuk dalam bentuk pentahidrat atau Na2S2O3.5H2OLarutan tidak boleh distandaarisasi dengan cara penimbangan secara langsung,tetapi harus distandarisasi dengan standard primer.Karena Na2S2O3.5H2O tidak stabil dalam jangka penyimpanan yang lama.

Pada pemeriksaan metode iodometri perlu dijaga kestabilan pH (pondus hydrogen).Larutan harus dijaga pada pH kurang dari 8.Karena jika pH lebih dari 8 atau dalam suasana alkalis I2akan bereaksi dengan Hidroksida(OH-) membentuk Iodida dan hyphoiodit yang selanjutnya terurai menjadi Iodida dan Iodidat yang dapat mengoksidasi thiosulfat menjadi sulfat.Sehingga reaksi berjalan tidak kuantitatif.

Indikator pada metode ini menggunakan amylum 1%.Amylum ini memiliki sifat sukar larut dalam air serta tidak stabil dalam suspensi air membentuk senyawa kompleks yang sukar larut dalam air jika bereaksi dengan iodium.Sehingga penanbahan amylum sebagai Indikator tidak boleh ditambahkan pada awal reaksi.penambahan amylum sebagai indicator sebaiknya diberikan menjelang titik akhir titrasi (pada saat larutan berwarna kuning pucat).

Titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna biru menjadi larutan bening(dari warna biru sampai warna biru hilang.Jadi penambahan amilum yang dilakukan saat mendekati titik akhir titrasi dimaksudkan agar amilum tidak membungkus iod karena akan menyebabkan amilum sukar dititrasi untuk kembali ke senyawa semula. Proses titrasi harus dilakukan sesegera mungkin, hal ini disebabkan sifat I2 yang mudah menuap. Pada titik akhir titrasi iod yang terikat juga hilang bereaksi dengan titran sehingga warna biru mendadak hilang dan perubahannya sangat jelas.  Penggunaan indikator ini untuk memperjelas perubahan warna larutan yang terjadi pada saat titik akhir titrasi.  Sensitivitas warnanya tergantung pada pelarut yang digunakan.  Kompleks iodium-amilum memiliki kelarutan yang kecil dalam air, sehingga umumnya ditambahkan pada titik akhir titrasi.  Jika larutan iodium dalam KI pada suasana netral dititrasi dengan natrium thiosulfat, maka :

I3- +   2S2O32- 3I- +   S4O62-

S2O32- +   I3- S2O3I- +   2I-

2S2O3I- +  I- S4O62- +  I3-

S2O3I- +  S2O32- S4O62- +  I-

Natrium tiosulfat (Na2S2O3.5H2O)dapat dengan mudah diperoleh dalam keadaan kemurnian yang tinggi, namun selalu ada saja sedikit ketidakpastian dari kandungan air yang tepat, karenaNa2S2O3.5H2O meiliki sifat flouresen atau melapuk-lekang dari garam itu dan tidak stabil dalam penyimpanan jangka lama.Oleh karena itu, zat ini tidak memenuhi syarat untuk dijadikan sebagai larutan baku standar primer.  Natrium tiosulfat(Na2S2O3.5H2O)  merupakan suatu zat pereduksi, dengan persamaan reaksi sebagai berikut  :

2S2O32- S4O62- +   2e-

Pembakuan larutan natrium tiosulfat ( Na2S2O3.5H2O) dapat dapat dilakukan dengan menggunakan kalium iodat, kalium kromat, tembaga dan iod sebagai larutan standar primer, atau dengan kalium permanganat atau serium (IV) sulfat sebagai larutan standar sekundernya.  Namun pada percobaan ini senyawa yang digunakan dalam proses pembakuan natrium tiosulfat( Na2S2O3.5H2O)  adalah kalium iodat (KIO3) standar.

Larutan natrium thiosulfat ( Na2S2O3.5H2O) sebelum digunakan sebagai larutan standar dalam proses iodometri ini harus distandarkan terlebih dahulu  oleh kalium iodat(KIO3) yang merupakan standar primer.  Larutan kalium iodat(KIO3)  iniharus ditambahkan dengan asam sulfat pekat, warna larutan menjadi bening.  Dan setelah ditambahkan dengan kalium iodide(I2), larutan berubah menjadi coklat kehitaman.  Fungsi penambahan asam sulfat pekat (H2SO4 PA) dalam larutan tersebut adalah memberikan suasana asam, sebab larutan yang terdiri dari kalium iodat (KIO3) dan klium iodide (KI)  berada dalam kondisi netral atau memiliki keasaman rendah. 

Reaksinya adalah sebagai berikut :

IO3- +  5I- +  6H+ →          3I2 +  3H2O

Penentuan Kadar Cu2+ dengan Larutan Baku Na2S2O3

Pada penentuan kadar Cu dengan larutan baku Na2S2O3 akan terjadi beberapa perubahan warna larutan sebelum titik akhir titrasi.  Tembaga murni dapat digunakan sebagai standar primer untuk natrium thiosulfat dan direkomendasikan jika thiosulfat harus digunakan untuk menetapkan tembaga.  Potensial standar pasangan Cu(II) – Cu(I) adalah +0,15 V dan karena itu iod merupakan pengoksidasi yang lebih baik dari pada ion Cu(II).  Tetapi bila ion iodida ditambahkan ke dalam larutan Cu(II) akan terbentuk endapan Cu(I).

2Cu2+ +  4I- 2CuI(s) +  I2

Penentuan kadar Cu2+ dalam larutan dengan bantuan larutan natrium tiosulfat yang dilakukan mengencerkan 5 mL sampel garam hingga 100 mL dan mengambil 10 mL hasil pengenceran tersebut untuk ditambahkan dengan larutan KI 10% dan menitrasi dengan larutan baku natrium tiosulfat hingga larutan yang semula berwarna coklat tua menjadi larutan yang berwarna kuning muda.  Kemudian larutan tersebut ditambahkan dengan 2 mL larutan amilum 1 % menghasilkan larutan yang semula berwarna kuning muda menjadi biru tua, Penambahan indikator amilum 1% ini dimaksudkan agar memperjelas perubahan warna yang terjadi pada larutan tersebut. kemudian larutan tersebut dititrasi kembali dengan larutan natrium tiosulfat hingga warna biru pada larutan tepat hilang.  Untuk lebih memperjelas terjadinya reaksi tersebut, ke dalam larutan ditambahkan amilum.Bertemunya I2 dengan amilum ini akan menyebabakan larutan berwarna biru kehitaman.Selanjutnya titrasi dilanjutkan kembali hingga warna biru hilang dan menjadi putih keruh.

I2 +  amilum                         I2-amilum

I2-amilum  +  2S2O32- 2I- +  amilum  +  S4O6-

Hal yang perlu diperhatikan setelah penambahan amilum adalah adanya sifat adsorpsi pada permukaan endapan tembaga(I) iodida. Sifat ini menyebabkan terjadinya penyerapan iodium dan apabila iodium ini dihilangkan dengan cara titrasi, maka titik akhir titrasi akan tercapai terlalu cepat. Oleh karena itu, sebelum titik akhir titrasi tercapai, yaitu pada saat warna larutan yang dititrasi dengan Na2S2O3akan berubah dari biru menjadi bening, dilakukan penambahan kalium tiosianat KCNS.

DAFTAR PUSTAKA

Basset.J etc. 1994.Buku Ajar Vogel, Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Day RA. Jr dan Al Underwood.1992. Analisis Kimia Kuantitatif. Edisi Keenam.: Erlangga.Jakarta

Khopkar, S. M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Universitas Indonesia Press. Jakarta.

Rivai, Harrizul. 1995. Asas Pemeriksaan Kimia. Penerbit UI. Jakarta.

 

Ditulis dalam Kimia Analisa

Permanganometri

Permanganometri

 

Permanganometri disebut juga dengan metode oksidimetri karena merupakan analisis kuantitatif yang di dasarkan pada sifat oksidasi dari larutan standartnya. Pada umumnya larutan zat yang ditritrasi bersifat reduktor, sehingga dalam reaksi ini reaksinya berupa reaksi redoks. (Khopkar, 2002).

Dalam analisis oksidimetri tidak digunakan indikator dari luar (ekstern indicator),tetapi larutan standartnya telah dapat berfungsi sebagai indikator sendiri (autoindicator).

Dimana permanganometri merupakan metode analisis kuantitatif menggunakan kalium permanganate (KMnO4), yang merupakan oksidator kuat dan digunakan sebagi titran. Titrasi ini didasarkan atas titrasi reduksi dan oksidasi atau redoks.

Pada Analisis kuantitatif metode permanganometri ini didasarkan pada reaksi oksidasi ion permanganat. Oksidasi ini dapat berlangsung dalam suasana asam, netral dan alkalis.

Reaksi ini lambat dalam larutan asam, tetapi sangat cepat dalam larutan netral. Karena alasan ini larutan kalium permanganat jarang dibuat dengan melarutkan jumah-jumlah yang ditimbang dari zat padatnya yang sangat dimurnikan misalnya proanalisis dalam air, lebih lazim adalah untuk memanaskan suatu larutan yang baru saja dibuat sampai mendidih dan mendiamkannya diatas penangas uap selama satu /dua jam lalu menyaring larutan itu dalam suatu penyaring yang tak mereduksi seperti wol kaca yang telah dimurnikan atau melalui krus saring dari kaca maser.

Permanganat bereaksi secara cepat dengan banyak agen pereduksi berdasarkan pereaksi ini, namun beberapa pereaksi membutuhkan pemanasan atau penggunaan sebuah katalis untuk mempercepat reaksi. Kalau bukan karena fakta bahwa banyak reaksi permanganat berjalan lambat, akan lebih banyak kesulitan lagi yang akan ditemukan dalam penggunaan reagen ini sebagai contoh, permanganat adalah agen unsur pengoksida, yang cukup kuat untuk mengoksida Mn(II) menjadi MnO2 sesuai dengan persamaan

3Mn2+ + 2MnO4- + 2H2O → 5MnO2 + 4H+

Kelebihan sedikit dari permanganat yang hadir pada titik akhir dari titrasi cukup untuk mengakibatkan terjadinya pengendapan sejumlah MnO2. (Basset, 1994).

Ditulis dalam Kimia Analisa

Kompleksometri

Kompleksometri

Titrasi kompleksometri merupakan titrasi berdasarkan pembentukan persenyawaan kompleks (ion kompleks atau garam yang sukar mengion).Kompleksometri merupakan jenis titrasi dimana titran dan titrat saling mengkompleks, membentuk hasil berupa kompleks. Reaksi–reaksi pembentukan kompleks atau yang menyangkut kompleks banyak sekali dan penerapannya juga banyak, tidak hanya dalam titrasi. Karena itu perlu pengertian yang cukup luas tentang kompleks, sekalipun disini pertama-tama akan diterapkan pada titrasi. Contoh reaksi titrasi kompleksometri :

Ag+ + 2 CN- Ag(CN)2

Hg2+ + 2Cl- HgCl2

(Khopkar, 2002).

Salah satu tipe reaksi kimia yang berlaku sebagai dasar penentuan titrimetrik melibatkan pembentukan (formasi) kompleks atau ion kompleks yang larut namun sedikit terdisosiasi. Kompleks yang dimaksud di sini adalah kompleks yang dibentuk melalui reaksi ion logam, sebuah kation, dengan sebuah anion atau molekul netral (Basset, 1994).

Titrasi kompleksometri juga dikenal sebagai reaksi yang meliputi reaksi pembentukan ion-ion kompleks ataupun pembentukan molekul netral yang terdisosiasi dalam larutan. Persyaratan mendasar terbentuknya kompleks demikian adalah tingkat kelarutan tinggi. Selain titrasi komplek biasa seperti di atas, dikenal pula kompleksometri yang dikenal sebagai titrasi kelatometri, seperti yang menyangkut penggunaan EDTA. Gugus-yang terikat pada ion pusat, disebut ligan, dan dalam larutan air, reaksi dapat dinyatakan oleh persamaan :

M(H2O)n + L = M(H2O)(n-1) L + H2O

(Khopkar, 2002).

Asam etilen diamin tetra asetat atau yang lebih dikenal dengan EDTA, merupakan salah satu jenis asam amina polikarboksilat. EDTA sebenarnya adalah ligan seksidentat yang dapat berkoordinasi dengan suatu ion logam lewat kedua nitrogen dan keempat gugus karboksil-nya atau disebut ligan multidentat yang mengandung lebih dari dua atom koordinasi per molekul, misalnya asam 1,2-diaminoetanatetraasetat (asametilenadiamina tetraasetat, EDTA) yang mempunyai dua atom nitrogen – penyumbang dan empat atom oksigen penyumbang dalam molekul (Rival, 1995).

Suatu EDTA dapat membentuk senyawa kompleks yang mantap dengan sejumlah besar ion logam sehingga EDTA merupakan ligan yang tidak selektif. Dalam larutan yang agak asam, dapat terjadi protonasi parsial EDTA tanpa pematahan sempurna kompleks logam, yang menghasilkan spesies seperti CuHY-. Ternyata bila beberapa ion logam yang ada dalam larutan tersebut maka titrasi dengan EDTA akan menunjukkan jumlah semua ion logam yang ada dalam larutan tersebut (Harjadi, 1993).

Selektivitas kompleks dapat diatur dengan pengendalian pH, misal Mg, Ca, Cr, dan Ba dapat dititrasi pada pH = 11 EDTA. Sebagian besar titrasi kompleksometri mempergunakan indikator yang juga bertindak sebagai pengompleks dan tentu saja kompleks logamnya mempunyai warna yang berbeda dengan pengompleksnya sendiri. Indikator demikian disebut indikator metalokromat. Indikator jenis ini contohnya adalah Eriochrome black T; pyrocatechol violet; xylenol orange; calmagit; 1-(2-piridil-azonaftol), PAN, zincon, asam salisilat, metafalein dan calcein blue (Khopkar, 2002).

Titrasi dapat ditentukan dengan adanya penambahan indikator yang berguna sebagai tanda tercapai titik akhir titrasi. Ada lima syarat suatu indikator ion logam dapat digunakan pada pendeteksian visual dari titik-titik akhir yaitu reaksi warna harus sedemikian sehingga sebelum titik akhir, bila hampir semua ion logam telah berkompleks dengan EDTA, larutan akan berwarna kuat. Kedua, reaksi warna itu haruslah spesifik (khusus), atau sedikitnya selektif. Ketiga, kompleks-indikator logam itu harus memiliki kestabilan yang cukup, kalau tidak, karena disosiasi, tak akan diperoleh perubahan warna yang tajam. Namun, kompleks-indikator logam itu harus kurang stabil dibanding kompleks logam-EDTA untuk menjamin agar pada titik akhir, EDTA memindahkan ion-ion logam dari kompleks-indikator logam ke kompleks logam-EDTA harus tajam dan cepat. Kelima, kontras warna antara indikator bebas dan kompleks-indikator logam harus sedemikian sehingga mudah diamati. Indikator harus sangat peka terhadap ion logam (yaitu, terhadap pM) sehingga perubahan warna terjadi sedikit mungkin dengan titik ekuivalen. Terakhir, penentuan Ca dan Mg dapat dilakukan dengan titrasi EDTA, pH untuk titrasi adalah 10 dengan indikator eriochrome black T. Pada pH tinggi, 12, Mg(OH)2 akan mengendap, sehingga EDTA dapat dikonsumsi hanya oleh Ca2+ dengan indikator murexide (Basset, 1994).

Ditulis dalam Kimia Analisa
Visitors
free counters
Kategori
Clock

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.